Selasa, 05 April 2011

Awan Kematian
Awan gelap menyelimuti salah satu sudut kota itu. Gemuruh petir menyambar mengiringi deru angin. Pertanda badai akan segera menerpa desa kecil itu. Jalan desa pun mulai tampak sepi. Tak tampak kesibukan warga desa yang sebagian besar adalah petani. Petir kian bergemuruh, bersahutan dengan lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang terdengar dari salah satu masjid. Suara yang mampu menenangkan hati siapapun di tengah derasnya badai.
Terlihat seorang pemuda berjalan mendekati masjid tersebut. Dari kejauhan, aku bias tahu bahwa pemuda itu adalah Rasyid. Seorang yang terkenal dengan keramahannya. Aku tahu itu dari perawakannya yang berbadan besar dan berkulit gelap bak preman pasar. Namun di balik semua itu tersimpan jiwa yang besar, penuh dengan keramahan dan akhlak mulia. Dia adalah pria yang ramah dan selalu menolong warga lain yang membutuhkan bantuan. Termasuk diriku yang pernah ditolongnya saat aku dikeroyok preman pasar yang akan memalakku. Sejak saat itu aku merasa berhutang budi padanya.
Tetes air hujan mulai turun membasahi jalan di depanku. Kupercepat langkahku menuju masjid. Aku dan Rasyid berpapasan di depan pintu masjid. Kami pun langsung masuk ke dalam masjid tersebut. Di dalam kulihat masjid telah penuh oleh para pemuda desa. Di masjid ini sedang diadakan kajian rohani untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para pemuda. Aku langsung mengajak Rasyid untuk duduk di salah satu tempat kosong. Suasana hening terasa di dalam masjid ini. Membuat setiap kata dari ustadz Firman slah satu tokoh agama di desa kami itu dapat menggetarkan hati kami. Ceramah ini mengambil tema tentang bagaimana menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama. Maka dari itu kudengarkan baik-baik karena suatu saat aku pasti membutuhkannya.
Tak terasa 40 menit telah berlalu. Ceramah telah usai, namun aku tak segera pulang. Kulihat diluar hujan masih sangat lebat. Kusandarkan tubuhku ke dinding dan melihat seisi masjid. Tampak Rasyid sedang berbincang dengan Ustadz Firman. Aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan, namun aku tahu benar apa maksud pembicaraan itu. Rasyid sedang menjalani terapi, terapi rohani tepatnya. Ya temanku yang satu ini sedang mengalami goncangan batin yang cukup parah menurutku. Jadi setiap hari setelah ceramah ia akan mendapatkan terapi dari ustadz Firman yang memang memiliki kemampuan di bidang ini.
Sudah sekitar satu bulan Rasyid mendapatkan yerapi ini. Sejak peristiwa 6 bulan lalu ia tiba-tiba berubah. Sering mengamuk tanpa alasan. Bahkan beberapa kali pernah mencoba untuk bunuh diri. Namun selalu dapat digagalkan oleh warga yang mengetahuinya. Untuk itulah ia harus mendapatkan terapi ini. Terbukti setelah sebulan menjalani terapi, ia menunjukkan perubahan yang signifikan. Bukan hanya Rasyid, para warga pun ikut senang dengan perkembangan ini. Termasuk diriku.
Satu tahun yang lalu, Rasyid menikah dengan gadis pujaan hatinya. Seorang gadis cantik dari desa sebelah dan merupakan puteri dari seoang pengusaha kaya. Bahkan cinta Rasyid kepada gadis ini telah diketahui oleh para warga kedua desa ini. Ini merupakan sebuah anugerah bagi Rasyid yang saat itu bekerja sebagai polisi. Hari-harinya selalu dihiasi dengan kemesraan dengan istri yang sangat dicintainya itu. Kemanapun Rasyid pergi pasti selalu ada untuknya.
Namun kebahagiaan itu tampaknya tak akan bertahan cukup lama. Setelah 6 bulan hidup bersama dan penuh kebahagiaan, tiba-tiba Rasyid dipecat dari pekerjaannya sebagai polisi. Ia dipecat karena dianggap lalai saat bertugas hingga menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Hidupnya kini menjadi sulit. Apalagi kini istrinya merengek-rengek minta ini dan itu. Hal ini semakin membuatnya tertekan. Istrinya selalu mendesak agar Rasyid mencari pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhannya. Berkali-kali ia mencoba melamar pekerjaan di berbagai tempat. Namun tak ada hasilnya. Hal ini membuat istrinya semakin marah dan menunjukkan sifatnya yang materialistis.
Seminggu setelah ia di pecat, istrinya semakin tak tahan. Ia pernah berkata pada Rasyid bahwa jika Rasyid tidak segera mendapatkan pekerjaan, ia akan minta cerai. Hingga suatu hari setelah mencari pekerjaan, langit sangat gelap. Awan hitam seakan membayangi langkahnya yang lelah menuju rumah. Seampainya di rumah, betapa kagetnya Rasyid melihat istrinya sedang bercumbu dengan pria lain yang tidak lain adalah rekannya saat masih bekerja di kepolisian. Rasyid marah besar dan langsung mengusir pria itu. Ia mendekati istrinya dan langsung menamparnya.
“Istri kurang ajar!! Ditinggal suami mencai pekerjaan malah selingkuh. Dasar wanita tak tahu diuntung! Pergi kamu!”
“Baik, aku akan pergi bang. Lagipula aku juga sudah bosan hidup denganmu yang kini hanya seorang pengangguran.” Jawab istrinya.
Istrinya pun segera pergi meninggalkan Rasyid sendiri di rumah itu. Hari-hari Rasyid kini tak seperti dulu lagi. Awan kelabu selalu membayangi jalan hidupnya. Kini ia hanya sendiri memendam luka yang sangat membekas di hatinya. Hari-harinya hanya diisi dengan termenung dan melamun, bahkan terkadang ia tertawa sendiri seperiti orang gila. Namun terkadang ia marah dan mengamuk tanpa alasan yang jelas sampai merusak rumah warga. Hal ini membuat warga menjadi resah.
Bukan hanya itu, ia pun pernah mencoba untuk bunuh diri. Saat itu salah satu warga melintas di depan rumah Rasyid. Ia melihat Rasyid sedang memasang tali ke atas sebuah pohon di pekarangan rumah. Karena ia penasaran, ia terus meperhatikan yang dilakukan Rasyid. Tiba-tiba ia melihat Rasyid mengikat lehernya dengan tali itu. Ia langsung berteriak dan memanggil warga lain yang kebetulan sedang melintas. Kemudian mereka berusaha mencegah hal itu. Walaupun kejadian itu berhasil digagalkan, namun beberapa kali Rasyid pernah mencoba kembali untuk mengakhiri hidupnya dengan cara lain. Tapi selalu berhasil digagalkan. Seakan awan kelabu tak pernah hilang dari hidupnya. Akhirnya demi menjaga keselamatan Rasyid dan keamanan warga, Rasyid dibawa menemui ustadz Firman untuk diberikan terapi kejiwaan sampai sekarang.
Kulihat keluar melalui jendela masjid. Awan gelap masih menyelimuti desa ini, bahkan hujan semakin deras diiringi sambaran petir yang semakin bergemuruh. Aku pun semakin mengurungkan niatku untuk pulang kerumah. Karena rumahku yang cukup jauh ditambah aku hanya hidup sendiri, jadi tidak pulang pun tidak masalah bagiku. Lebih baik kutunggu sampai hujan reda walau sampai besok pagi sekalipun.
Berbeda dengan Rasyid, kulihat ia sedang berpamitan dengan ustadz Firman. Beberapa kali ustadz Firman mencegahnya pulang untuk menunggu hujan reda. Namun Rasyid tetap memaksa untuk langsung pulang. Entah kenapa ia begitu ingin pulang. Karena setahuku ia kini hanya hidup sendiri. Kulihat ia keluar dari masjid sambil berlari. Tak lama kemudian. ”Braakkkk”. Suara tabrakan terjadi di depan masjid. Aku segera keluar untuk melihat kejadian, begitu pula dengan para pemuda yang kebetulan masih di dalam masjid.
Di jalan depan masjid, kulihat Rasyid tergeletak dengan kepala mengucurkan darah. Menurut warga yang melihat kejadian ini, Rasyid tengah berlari keluar dari masjid dan tanpa melihat ia langsung menyeberang jalan. Tiba-tiba sebuah truk melaju sangat kencang menyambar tubuhnya hingga terpental. Rasyid tewas seketika. Sungguh memilukan kejadian yang dia alami. Kini ia telah tergeletak tak bernyawa di bawah naungan awan hitam kelam. Namun ininilah takdir yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Tamat.
BIOGRAFI
A.H. NASUTION

Nama : Abdul Haris Nasution
Pangkat : Jenderal Bintang Lima
Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal : Jakarta, 6 September 2000
Agama : Islam
Istri : Ny Johanna Sunarti
Pendidikan :
• HIS, Yogyakarta (1932)
• HIK, Yogyakarta (1935)
• AMS Bagian B, Jakarta (1938)
• Akademi Militer, Bandung (1942)
• Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
• Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
• Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
• Universitas Mindanao, Filipina (1971)


Karir :
• Guru di Bengkulu (1938)
• Guru di Palembang (1939-1940)
• Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
• Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
• Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
• Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
• Panglima Komando Jawa (1948-1949)
• KSAD (1949-1952)
• KSAD (1955-1962)
• Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
• Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
• Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
• Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
• Ketua MPRS (1966-1972)

A.H. Nasution dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Beliau senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.
Nasution muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, beliau gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh).
Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Nasution sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.
Beliau pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal beliau sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Nasution-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.
Nasution memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Nasution menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Beliau tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.
Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Beliau lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Nasution telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).
Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Nasution-lah orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah beliau pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga beliau terpaksa membuat sumur di belakang rumah.
Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.
Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Pengikut